Teknologi Informasi, utamanya Internet, bukan sekedar alternatif media komunikasi atau pemuas hobi. Tidak hanya sekelumit nilai budaya atau standar anggaran orang Indonesia yang diguncangnya. Perlahan tapi pasti, TI membuka lapangan kerja baru di bidang yang sebelumnya dipandang sebelah mata: penulisan lepas.
Internet itu mahal, semua orang sudah tahu. Jangankan merambah dunia maya, mesin pintar bernama komputer saja belum terdaftar sebagai perangkat wajib di rumah-rumah di negeri ini. Kalaupun punya, sifatnya sangat seadanya. Dengan kata lain, “asal bisa dipakai mengetik.” Posisinya belum sebanding dengan televisi, telepon, ponsel, dan kendaraan bermotor. Baru mendengar kata Internet saja, kita sudah berhitung harga komputer dengan spesifikasi yang mendukung, modem, ongkos registrasi, biaya langganan ISP, dan pulsa telepon yang jauh dari murah.
Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa urat nadi pertumbuhan teknologi informasi Indonesia adalah warnet-warnet yang sempat mencapai masa keemasan—sebelum dikalahkan oleh playstation—dan tidak merata itu. Perilaku user rata-rata sama, mengakses Internet sekedar untuk chatting dengan orang tidak dikenal (baca: mencari pasangan), berkirim email, browsing, download, dan aktivitas berbau hiburan lainnya. Wajar jika orang belum berani menganggarkan aplikasi satu ini untuk dijadikan bagian dari rumah tangga. Padahal, sungguh sayang bila biaya sewa yang lumayan itu tidak dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Setelah layanan cari kerja di Internet via situs-situs karir meredup pamornya, komunitas yang terhimpun di dunia maya tumbuh semakin subur. Selain menunjukkan kesaktian Internet sebagai media informasi terkini dan simbol kebebasan informasi, fenomena ini mengadaptasi budaya orang kita yang senang bersosialisasi dan membentuk kelompok berdasarkan kesamaan minat, hobi, dan aspirasi. Tengoklah daftar milis Indonesia di Yahoo! Groups yang—terakhir kali saya cek—mencapai angka seribuan.
User kita mulai melirik milis yang dipandang lebih efektif dan efisien untuk beragam kepentingan, termasuk usaha mencari pekerjaan tadi. Agaknya animo terhadap milis yang mengkhususkan informasi lowongan mulai memudar. Atau tepatnya, kepercayaan user terhadapnya menurun. Dalam kapasitas kerja saya sebagai pencari informasi untuk diforward ke bank data karir Qcollege—sekaligus ke beberapa teman yang saya asumsikan perlu—saya merasakan betul surutnya arus lowongan akhir-akhir ini. Justru informasi kerap disebarkan dalam milis-milis lain yang berkenaan dengan bidang pekerjaan tersebut, misalnya posting lowongan desainer grafis di milis idea_list.
Apa lacur, angin telah berubah arah. Sesuai hakikatnya yang senantiasa berubah dalam waktu singkat, perubahan yang tak dapat diramalkan sering terjadi di dunia TI. Di lain pihak, dunia kerja Indonesia terlanjur lekat dengan yang namanya KKN, baik positif maupun negatif. Dari bincang-bincang ringan di milis atau komentar melalui email, tanpa disangka-sangka kita mendapat durian runtuh berupa tawaran kerja atau informasi berharga lainnya. Contoh kecil, setelah mengirimkan email yang menyampaikan apresiasi dan rasa puas ke sebuah penerbit atas novel yang saya baca, saya diundang menulis di jurnal yang mereka terbitkan.
Apa yang menyebabkan sistem berburu kerja di milis ini menjadi favorit? Pertama, faktor kepraktisannya. Menunggu posting informasi lowongan di sini tidak semengesalkan menunggu surat panggilan via pos atau mencari-cari iklan di surat kabar yang isinya itu-itu saja. Penantian itu makin tidak terasa bagi user yang aktif memeriksa email dan berpartisipasi meramaikan milis. Kedua, sambil menyelam minum air. Belum mendapat informasi, tidak masalah, sebab kita dapat menambah teman dan wawasan.
Daftar “jasa” TI di Indonesia bertambah panjang dengan aplikasinya di dunia pendidikan, walaupun belum maksimal. Dalam kaitannya dengan urusan pekerjaan di atas, user dapat berdialog secara interaktif mereguk pengetahuan dan bertukar ide serta pengalaman dengan mereka yang lebih senior tanpa perlu repot-repot meluangkan waktu membaca buku atau kuliah lagi—khususnya bagi user yang sibuk. Mengutip istilah Onno W. Purbo, berbuat amal di Internet. Membangun kepercayaan dan hubungan baik antar user, lalu memetik buahnya (siapa tahu) mendapat kesempatan meningkatkan karir yang sesuai dengan cita-cita.
Meskipun belum mewabah benar, TI menghembuskan angin segar bagi sejumlah profesi yang bahkan berada di luar lingkup teknologi itu sendiri. Sebut saja misalnya: penerjemah, guru, dan yang dewasa ini tengah naik daun, penulis. Satu profesi yang sulit mendapatkan pengakuan di masyarakat kita yang telah terbiasa dengan materi dan kedudukan sebagai parameter kesuksesan.
Disadari atau tidak, peranan TI mengangkat dunia tulis-menulis telah dirintis sejak lama. Keberadaan email merangsang user aktif menulis dalam kondisi yang lebih nyaman dibanding menulis surat karena lebih cepat, dapat menyampaikan pesan lebih banyak, dan dapat diedit lebih mudah. Ditambah lagi adanya forum online, guestbook, dan fitur penerimaan review atau artikel yang melatih user terbiasa menulis sehingga lambat laun kita dapat menyampaikan gagasan secara runtut dan mudah dicerna.
Media cetak umum, yang sudah punya nama sekalipun, memang masih jarang yang menerima naskah melalui email. Media TI seperti mwmag ini mempeloporinya. Kombinasi demikian memenuhi standar kepuasan para penulis. Mereka diuntungkan dengan prosedur yang ekonomis, sementara bukti karya dalam bentuk cetak membuka seluas-luasnya kesempatan untuk diapresiasi di darat. Kendati tidak sedikit yang berterus terang menceburkan diri ke dunia penulisan dengan motivasi uang, pengakuan masyarakat (baca: popularitas) tak pelak menjadi kebanggaan sejati seorang penulis, melebihi besarnya nominal yang masuk ke kantungnya. Tidak perlu disinggung lagi nilai tambah lain yaitu kenikmatan bekerja dari rumah dan kemerdekaan mengatur waktu yang besar artinya bagi para penulis, golongan seniman yang seringkali terpengaruh oleh suasana hati dalam bekerja.
Bisa dikatakan, Internet yang melengkapi komputer selaku sahabat akrab seorang penulis juga menyibak tabir dunia penulisan menyimpan warna-warni menarik. Sejak dahulu, orang terbiasa menjatuhkan vonis sempit bahwa penulis identik dengan pengarang fiksi dan penyair. Faktanya? Kita bisa menjadi kontributor media cetak alias kolumnis, jurnalis, penulis artikel, penulis buku, cerpenis, novelis, copywriter untuk biro iklan atau desain situs web, content writer, penulis skrip radio, penulis naskah komik, proofreader, copy editor, sampai dunia gemerlapan yang menggiurkan: penulis naskah televisi dan skenario. Yang disebut belakangan ini begitu mengundang minat sampai-sampai member milis Layarkata-Network, sebuah komunitas penulis skenario, membengkak dari kesepakatan awal. Di milis penulis-ti sekarang ini pun tengah hangat diskusi—plus propaganda—seputar karir penulis yang terbukti layak dijadikan gantungan hidup. Dengan kata lain, perkawinan TI dan dunia penulisan melahirkan penulis-penulis baru yang potensial serta berbakat besar.
Tidak mudah memang menepis anggapan orang yang meragukan pekerjaan menulis dari segi materi. Untuk menyiasatinya, ada yang menjadikan profesi ini sebagai sambilan dan wadah menyalurkan hobi. Jika ingin menekuni beragam bidang penulisan, alias tidak cuma satu spesifikasi, tak ada undang-undang yang melarangnya. Sudah banyak praktisi dan akademisi yang terjun di dunia tulis-menulis. Beberapa pekerjaan, misalnya bidang Humas, mensyaratkan kemampuan menulis. Asal tahu saja, aspek tulisan—dalam arti kreativitas komposisi kata—tak kalah menentukan dalam proses seleksi surat lamaran kerja. Anda tertarik? Tunggu apa lagi? (rnb)
Rini Nurul Badariah, mantan dosen, memutuskan sepenuhnya menjadi penulis. Tulisan ini terinspirasi oleh Ary Nilandari, penerjemah lepas di Bandung yang kini aktif menulis fiksi anak-anak.
URL: groups.yahoo.com/group/LayarKata-Network, groups.yahoo.com/group/penulis-ti, groups.yahoo.com/group/idea_list.